Jumat, 14 Agustus 2009

Jejak Terakhir Saefuddin Jaelani


Tulisan pada jadwal pengajian itu masih terbaca jelas saat Tempo mengunjungi Masjid As-Surur, Perumahan Candraloka, Talaga Kahuripan, Kemang, Bogor, Selasa lalu. Di antara deretan nama penceramah, nama Saefuddin Jaelani muncul hingga lima kali: pada 2 November 2008, 17 Februari, 9 April, 5 Juli, dan 20 September 2009.


Si pemilik nama kini menjadi target perburuan polisi. Sabtu lalu, Kepala Kepolisian RI Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengatakan Saefuddin merupakan perekrut pelaku bom bunuh diri Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Dani Dwi Permana, 18 tahun, dan Nana Ikhwan Maulana, 28 tahun.

Pengumuman polisi membuat gempar tetangga Saefuddin di Candraloka. Mereka tak mengira bila Ustad Saefuddin--begitu warga biasa memanggilnya--terkait dengan jaringan teroris. Sebagian warga pun mengecam imam masjid itu. "Kalau benar dia terlibat jaringan teroris, kami mengutuk perbuatannya," kata Asep, warga Blok CC, Candraloka.
Keluarga Saefuddin mulai menempati rumah kontrakan di Blok CC Nomor 6, sekitar 50 meter dari Masjid As-Surur, pada pertengahan 2006. Lazimnya warga baru, Saefuddin melapor kepada pengurus rukun tetangga setempat.

Ketua RW 10 Djoko Suhardjo mengaku mendengar kabar Saefuddin melapor dengan menyerahkan fotokopi kartu keluarga beralamat Kecamatan Cilimus. Sejauh ini belum ada konfirmasi apakah alamat kartu keluarga Saefuddin sama dengan alamat keluarga Ibrohim, yang ditembak polisi di Temanggung, Jawa Tengah.

Kefasihan Saefuddin membaca Al-Quran dan kemampuan dia berargumen membuat sebagian orang terpikat. Saefuddin pun didaulat menjadi imam Masjid As-Surur yang lama menjadi imam baru. Sejak itu, Saefuddin kerap menjadi khatib salat Jumat di Masjid Raya Talaga Kahuripan.
Dalam kesehariannya, Saefuddin mudah dikenali karena sering mengenakan baju gamis dan celana di atas mata kaki. Dia kadang memakai peci putih atau serban merah-putih. Adapun istrinya, Kholifah, biasa memakai cadar.

Sejumlah warga menuturkan ciri-ciri Saefuddin. Pria 170-an sentimeter itu berwajah agak kotak, biasa berjenggot, dan berambut pendek. Badannya tegap dengan kulit kuning langsat. Sorot matanya tajam, terutama saat melihat orang yang belum dikenalnya.

Saefuddin berlogat Jawa campuran. Kepada warga, dia pernah mengaku sebagai orang Cirebon asli. Tapi ada warga yang menyebut pria berhidung mancung ini mirip orang Arab.
Saefuddin tinggal di rumah kontrakan bersama putra sulungnya berusia 6 tahun. Enam bulan lalu, bayi perempuan mungil menambah penghuni rumah itu. Waktu tiga tahun ternyata tak cukup bagi tetangga untuk mengenal secara luar-dalam keluarga Saefuddin.

Selain sebagai imam masjid, warga hanya mengenal Saefuddin sebagai penjual madu dan ahli pengobatan bekam. Adapun Kholifah dikenal sebagai guru agama di sebuah taman kanak-kanak. Yang membuat heran para tetangga, akhir Mei lalu tiba-tiba Saefuddin menghilang. Dia hanya berpamitan kepada tukang ojek yang biasa mengantar dan menjemput sekolah anaknya.

Beberapa hari setelah Saefuddin pindah, Dani Dwi Permana, remaja penjaga Masjid As-Surur, pun pergi tanpa kabar. "Kami tidak mengira kalau Dani diajak Saefuddin," kata Djoko.

Kini gosip seputar Saefuddin malah meruyak. Seorang tetangga mengaku pernah dimintai tolong Saefuddin untuk membuatkan rekening di bank. Kepada si tetangga, Saefuddin mengaku akan mendapat kiriman uang untuk membangun pesantren dan kegiatan keagamaan.
Setelah itu, si tetangga tidak pernah tahu berapa uang yang masuk rekening itu karena buku tabungan dan kartu penarikan tunai (ATM) dipegang Saefuddin. "Saya yakin dia (si tetangga) merasa tertipu," kata Djoko.

Kisah lain, selama tinggal di Candraloka, Saefuddin selalu menghindar jika ada yang hendak memotretnya. Saefuddin bahkan pernah mengharamkan dirinya dipotret. Tak aneh, ketika polisi mencari foto dia, tidak ada satu pun tetangga yang memilikinya.

Sumber: tempointeraktif.com

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites